News on MRT Jakarta

the unofficial blog of MRT Jakarta Projects

Archive for the ‘bisnis.com’ Category

Segera tetapkan pemenang tender desain MRT

leave a comment »

Pengarah Proyek bertemu pekan depan

JAKARTA: Pemprov DKI mendesak Departemen Perhubungan dan Japan International Cooperation Agency (JICA) menetapkan pemenang tender desain dasar proyek mass rapid transit.

Gubernur DKI Fauzi Bowo menyatakan percepatan itu penting agar proses tersebut bisa segera bekerja menyerap tenaga kerja di Jakarta sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi Ibu Kota pada 2009 yang diyakini terkoreksi jadi 5,6% dari asumsi semula 6,1%.

“Akhir bulan ini, kami akan mengundang panitia pengarah proyek MRT guna membahas percepatan pengambilan keputusan demi kelancaran tahapan pembangunan MRT,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dalam pertemuan panitia pengarah itu diharapkan akan muncul kesepahaman antara Pemprov DKI, dan Dephub serta JICA, selaku kepanjangan tangan dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) penyandang dana proyek MRT.

“Saya juga akan meminta kejelasan perkembangan mengenai masalah desain dasar yang menjadi kewenangan mereka ini. Karena perkembangan terakhir yang saya dengar baru ada short listed tiga nama perusahaan, belum sampai pada tahap siapa yang menang,” tambahnya.

Gubernur menegaskan percepatan juga diharapkan agar proses pembangunan konstruksi bisa segera dilakukan, sehingga semua rencana pelaksanaannya bisa berjalan sesuai dengan jadwal seperti yang telah ditetapkan. (lihat ilustrasi)

Dihubungi terpisah, Sekretaris Komisi B DPRD DKI Nurmansjah Lubis (F-PKS) mengatakan keterlambatan itu dimungkinkan karena PT Kereta Api belum dapat melepaskan kewenangan kepemilikan dan pengelolaan sarana transportasi pada Pemprov DKI.

“Mereka mungkin masih belum ikhlas kalau Pemprov DKI memiliki perusahaan kereta api sendiri seperti MRT. Susah memang kalau paradigma lama masih dipakai,” ujarnya.

Karena itu, Pemprov DKI harus mendesak percepatan proses MRT. sebab, DKI sendiri telah mempersiapkan pelaksanaan proyek ini baik dari sisi pembiayaan dari APBD maupun dari rencana kerja yang akan dilaksanakan.

Dia menambahkan yang harus dilakukan sekarang adalah PT MRT harus segera merapat ke PT KA dan sedikit mendesak akan penting desain dasar karena ini sudah didukung penuh oleh pemerintah pusat.

Sebelumnya, JICA mengatakan kendala pengumuman PT Katahira sebagai pemenang lelang desain dasar MRT karena belum adanya klarifikasi dari Dirjen Perekeretaapian terkait dengan penunjukkan perusahaan asal Jepang itu. Namun, tidak dijelaskan klarifikasi apa yang dibutuhkan JICA tersebut. (mia.chitra@bisnis.co.id)

Oleh Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia

Written by jakartamrt

January 13, 2009 at 1:39 am

Posted in bisnis.com

Tagged with

Desain dasar MRT tertunda lagi

leave a comment »

Krisis diduga pemicu terbitnya SK Tender

JAKARTA: Pelaksanaan desain dasar yang direncanakan awal tahun terancam tertunda kembali, menyusul belum terbitnya surat keputusan pemenang lelang pembuat desain dasar proyek kereta bawah tanah.

Sebelumnya pelaksanaan desain dasar kereta bawah tanah (mass rapid transit/MRT) yang memakan waktu sekitar 14 bulan itu, direncanakan dimulai sejak akhir tahun lalu.

Beberapa spekulasi penyebab keterlambatan mulai muncul. Spekulasi pertama muncul yakni krisis ekonomi yang melanda Jepang, membuat negara penyandang dana itu menunda proses percepatan sampai kondisi ekonominya membaik.

Akibat krisis, beberapa industri di Jepang memang sempat mengalami kolaps. Akibatnya, muncul pesimisme dari pengusaha Jepang untuk berinvestasi di Indonesia karena krisis global itu.

Kekhawatiran itu, diakui oleh Ketua Asosiasi Penguasaha Jepang-Indonesia Hajime Kinoshita dalam pertemuan antara pengusaha Jepang dan Indonesia di Kansai (kawasan Jepang barat) kemarin.

Menurut Kinoshita, hal yang paling penting saat ini yakni menciptakan sikap optimistis dari sebelumnya pesimistis, terlebih bila melihat kondisi Jepang yang terkena dampak krisis ekonomi yang begitu besar.

Dalam pertemuan itu, Ketua Umum Kadin Rachmat Gobel meminta pengusaha Jepang memandang optimistis iklim perekonomian Indonesia. “Penting bagi Indonesia dan Jepang untuk memperluas usaha di tengah situasi krisis seperti sekarang. Apalagi kondisi ekonomi Indonesia justru berada dalam posisi yang positif,” kata Gobel.

Bukan krisis

Namun, spekulasi keterlambatan akibat krisis global itu, dibantah Deputi Menko Perekonomian Bidang Infrastruktur Bambang Susantono yang menyebutkan keterlambatan bukan diakibatkan oleh adanya dampak krisis global di Jepang.

Pasalnya, kata dia, sejak semulai JBIC sudah berkomitmen untuk membiayai beberapa infrastruktur di Indonesia termasuk proyek MRT di Jakarta. “Itu bukan jadi alasannya, karena mereka sudah komitmen sejak awal baik secara tekniknya. Jadi saya rasa bukan itu masalah utamanya,” ujar dia ketika dihubungi kemarin.

Bantahan serupa juga disampaikan juru bicara JICA Iman Senoadji yang mengatakan penyebab keterlambatan lebih disebabkan belum tercapainya kesepakatan antara pihak Departemen Perhubungan dan Japan International Cooperation Agency (JICA) terkait keputusan pemenang lelang yang telah ditetapkan Dephub menunjuk Katahira sebagai pemenang lelang.

Menurut dia, saat ini masalah yang mengganjal yakni proses internal kesepakatan antara JICA, panitia lelang dan Dirjen Perkeretaapian terkait keputusan pemenang lelang.

Dia menjelaskan ada beberapa hal yang harus disepakati diantara ketiga pihak itu agar mencapai satu kesepahaman.

Iman menjelaskan, ada beberapa klarifikasi dari JICA yang harus diselesaikan Dirjen Perkeretaapian, sebelum pemenang lelang diumumkan secara sah.

Namun, dia menegaskan semua proses berjalan sesuai dengan tahapan dan tidak ada rencana untuk menunda atau pembiayaan pelaksanaan MRT.

Dalam perkembangan lain, MRT juga menarik minat negara Korea untuk membiayainya.

Business Development Hyundai Corporation Triono Hermawan mengatakan perusahaannya tertarik untuk membiayai proyek MRT tahap kedua, dengan pembiayaan bersumber dari Korean EXIM Bank atau EDCF’s soft loan. (mia.chitra@bisnis.co.id)

Oleh Mia Chitra Dinisari
Sumber: Bisnis Indonesia

Written by jakartamrt

January 12, 2009 at 3:48 am

Posted in bisnis.com

'Jepang usulkan dua kontraktor saja'

leave a comment »

JAKARTA: Tahun ini, menjadi titik awal dimulainya pembangunan kereta bawah tanah mass rapid transit (MRT) menyusul bakal ditandatanganinya kesepakatan perjanjian kedua per Februari 2009. Direktur Utama PT MRT Eddi Santosa, dalam wawancaranya dengan Bisnis, menjelaskan apa saja rencana itu paskapenunjukan PT Katahira sebagai perusahaan konsultan basic desain MRT.

Program apa saja yang segera dilakukan?

PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta akan menyiapkan tender rekrutmen konsultan pelaksana desain dasar proyek MRT, untuk mendukung kegiatan pembuatan basic desain oleh perusahaan konsultan yang ditunjuk Departemen Perhubungan. Setelah itu, barulah akan dibuka tender untuk perusahaan kontraktor, dan supervisi kegiatan.

Apakah tendernya akan dibuka secara terbuka?

Tender dengan short listed, akan segera dibuka setelah rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) PT MRT disetujui dalam rapat umum pemegang saham yang digelar Januari 2009. Daftarnya berasal dari beberapa nama konsultan yang dipakai untuk membuat basic desain proyek MRT yang sempat dirancang pada 1996.

Beberapa nama yang muncul dalam proyek lebih dari 10 tahun itu a.l Japan Railway Technical Service, Deutsche Eisenbahn-Consulting Gmbh, Ove Arup&Partners International, Pacific Consultants International Ltd, PT Encona Engineering Inc, PT Wiratman & Associate, dan PT Triparta Engineering. Tentunya kami akan pilih konsultan dari Jepang, sesuai dengan standar prosedur yang harus dipenuhi dalam proyek ini.

Untuk konstruksi, berapa kontraktor yang akan direkrut nantinya?

Saya akan pilih lebih dari lima kontraktor yang akan membangun proyek ini, agar lebih cepat pengerjaannya sehingga bisa menekan biaya dan lebih banyak menggandeng tenaga kerja.

Pihak Jepang sebenarnya mengajukan usulan hanya dua kontraktor besar yang terlibat, tetapi dari hasil negosiasi diputuskan jumlahnya lebih banyak dengan alasan tadi. Namun, kontraktor itu harus terdapat unsur Jepangnya, meski nantinya berupa konsorsium dari perusahaan beberapa negara termasuk Indonesia juga.

Bagaimana dengan material fisik sendiri?

Masih sesuai dengan kesepakatan, dengan sistem 40% dibelanjakan untuk produk Jepang, sedangkan 30%nya produk dalam negeri, dan 30% sisanya ke negara mana saja. Namun, kami juga berhasil mencapai kesepakatan dengan Japan International Cooperation Agency [JICA] terkait dengan penyediaan kereta akan dilakukan dengan sistem 70:30. yakni, 70% kereta akan didatangkan dari Jepang, sedangkan 30% sisanya dirakit di sini. Langkah ini dilakukan untuk menekan biaya pengadaan kereta impor. Sebelumnya, mereka minta 100% kereta didatangkan dari Jepang.

Proses pembebasan lahan?

Pembebasan lahan tidak terlalu banyak, karenanya saya pikir mungkin tahun ini bisa selesai semua, atau sisanya bisa diselesaikan berbarengan dengan proses konstruksi nantinya. Jadi tahun ini akan dipercepat prosesnya itu.

Kapan pinjaman tahap kedua turun?

JBIC sepakat mengucurkan dana pinjaman sebesar US$450 juta atau setara dengan 142 Miliar Yen dalam penandatanganan kesepakatan kedua pada awal tahun ini. Nilai itu masih termasuk nilai hibah yang diterima DKI dari pemerintah pusat atau 48% dari total pinjaman ke JBIC, sedangkan pengucuran dana berupa pinjaman baru akan diterima pada loan agreement tahap ketiga.

Saya menyusun strategi ini, agar dengan dana hibah ini, PT MRT sudah punya equity yang bisa dijadikan modal awal dalam melaksanakan kegiatan pembangunan.

Bagaimana konsep pembangunannya sendiri?

Terkait dengan konsep pembangunan MRT nantinya, akan dibangun dengan konsep restorasi kawasan kota agar tampak lebih teratur sehingga bisa mendatangkan manfaat ekonomis. Ini merupakan keinginan dari Gubernur dan saya akan menerapkannya di lapangan. Nantinya akan banyak kerja sama dengan swasta untuk pengembangan ini.

Adapun, untuk konsep stasiun dan relnya akan diterapkan dengan sistem bawah tanah dan elevated, sehingga tidak banyak mengganggu aktifitas lalu lintas dalam pengerjaannya, ataupun dalam operasionalnya nanti.

Menurut rencana, sebelum jalur Dukuh Atas-Kota dibangun, Pemprov DKI juga akan membangun kawasan jaringan terpadu bawah tanah sepanjang Dukuh Atas-Bunderan HI. Ini konsep yang diinginkan Gubernur. Karena diharapkan nantinya selain setiap stasiun terintegrasi dengan kegiatan bisnis di sekitarnya, di sepanjang Dukuh Atas-Bunderan HI ini juga akan ada kegiatan bisnis yang bisa mendatangkan revenue bagi DKI.

Pewawancara: Mia Chitra Dinisari
Sumber: Bisnis Indonesia

Written by jakartamrt

January 5, 2009 at 8:51 am

Posted in bisnis.com

Pemerintah diminta tak intervensi lelang MRT

leave a comment »

JAKARTA: Pemerintah diminta segera mengumumkan secara resmi pemenang lelang proyek konsultan internasional desain dasar mass rapid transit (MRT) jalur Lebak Bulus-Dukuh Atas.

Harun Al-Rasid S. Lubis, pakar transportasi ITB, mengatakan pengumuman itu untuk mempercepat proyek pembangunan MRT yang tertunda.

“Pemerintah harus mengumumkan secara resmi karena selama ini MRT tertunda akibat proses lelang konsultan internasional yang belum selesai,” katanya, kemarin.

Pernyataan itu, sekaligus mempertanyakan surat Menhub Jusman Syafii Djamal yang menyetujui Katahira sebagai peserta lelang proyek konsultan internasional MRT dengan peringkat teratas.

Menurut Harun, pemerintah dinilai lambat dalam mempercepat proyek MRT akibat terlambatnya pengumuman pemenang proses lelang konsultan internasional.

Proses lelang konsultan internasional itu digelar sejak tahun lalu. “Jadwalnya seharusnya sudah ada pemenangnya karena sudah hampir setahun.”

Harun tidak menampik kemungkinan ada intervensi dari berbagai pihak termasuk Menhub Jusman Syafii Djamal dalam proses lelang.

Namun, dia menyatakan sejauh ini intervensi dalam proses lelang proyek konsultan internasional MRT belum terbukti.

“Kalau ada intervensi mungkin saja tetapi secara hukum tidak dibenarkan,” papar Harun.

Harun juga menegaskan proses bisnis PT MRT dengan Pemda DKI secara terperinci belum lengkap dipayungi oleh Perda No. 3/ 2008 dan 4/2008.

“Pemda DKI sebaiknya menyiapkan proses bisnis MRT yang lebih rinci dalam Perda lainnya, utamanya menyangkut batas dukungan yang mungkin diberikan kepada PT MRT.”

Selain itu, PT MRT pada gilirannya harus mampu mengembangkan pendapatan selain dari pemasukan tiket. Untuk itu, proses pengembangan lahan di sepanjang koridor MRT harus menjadi kesatuan dengan penyelenggaraan MRT.

Dephub diketahui memilih perusahaan Jepang, Katahira & Engineers International, sebagai pemenang lelang proyek konsultan teknik desain dasar MRT senilai US$17 juta.

Oleh Hendra Wibawa
Source: Bisnis Indonesia

Written by jakartamrt

December 27, 2008 at 8:51 am

Posted in bisnis.com

Dephub pilih Katahira garap desain MRT

leave a comment »

JAKARTA: Departemen Perhubungan diketahui memilih perusahaan Jepang, Katahira & Engineers International, sebagai pemenang lelang proyek konsultan teknik desain dasar mass rapid transit (MRT) senilai US$17 juta.

Keputusan yang menyisihkan Nippon Kei Co Ltd, Japan Transportation Consultants Inc, The Japan Electrical Consulting Co Ltd, dan Koken Architect Inc itu diinisiasi Menhub melalui surat M.105/PL.101/ MPHB yang salinannya diperoleh Bisnis, pekan ini.

Dalam surat perihal Persetujuan Hasil Evaluasi Dokumen Penawaran Teknis Consulting Engineering Service for Jakarta Mass Rapid Transit System Project itu, Menhub menyebutkan Katahira memperoleh nilai 75,43, sedangkan Nippon hanya 74,13.

Dalam pekerjaan proyek basic desain MRT itu sendiri, Katahira bekerja sama dengan empat perusahaan lokal, yakni PT Hasfarm Dian Konsultan, PT Connel Wagner Indonesia, PT Delta Tama Jaya, dan PT Indotek Konsultan Utama.

Adapun Nippon yang sudah pasti tersisih menggandeng enam mitra lokal, yaitu PT Jaya CM Manggala Pratama, PT Dardela Yasa Guna, PT Inti Daya Kreasicitra, PT Wiratman & Ass, PT Raya Konsult, PT LAPI Institut Teknologi Bandung.

Tender desain dasar MRT tadinya diikuti tiga konsorsium. Selain Katahira dan Nippon adalah Pacific Consultant International. Namun, yang terakhir ini karena dinilai bermasalah. Katahira dan Nippon Koei pernah menangani proyek MRT di Manila.

Namun, keputusan Dephub memenangkan Katahira sebagai pemenang tender itu belum definitif karena harus menunggu persetujuan Japan International Cooperation Agency (JICA) selaku peminjam (lender) proyek yang dijadwalkan rampung Maret 2010 tersebut.

Surat internal

Menhub Jusman Syafii Djamal ketika dihubungi tadi malam tidak mengonfirmasi ataupun membantah isi surat tersebut. “Itu kan surat internal, dari saya ke Dirjen. Bagaimana Anda bisa tahu? Saya juga tidak tahu bentuk surat yang Anda pegang sekarang seperti apa, asli atau palsu.”

Ketika dijelaskan surat yang ditandatanganinya per 14 November 2008 itu memenangkan Katahira dan menyisihkan Nippon, dan konfirmasi atau bantahannya mengenai isi surat itu dibutuhkan, Menhub mengatakan keputusan akhir pemenangnya ada di tangan JICA, bukan Dephub.

Dirjen Perkeretaapian Dephub Wendy Aritenang yang coba dihubungi kemudian untuk menjelaskan isi surat bernomor M.105/PL.101/ MPHB itu juga tidak mengonfirmasi ataupun membantah. Surat itu sendiri ditujukan Menhub kepadanya.

“Itu surat intern, konfidensial, tidak boleh keluar sebetulnya. Kita tunggu saja prosesnya. Kalau nanti sudah ada ketetapan dari JICA, baru. Kalau baru intern saja, kita repot. Saya akui dengan era keterbukaan ini, surat itu bisa Anda dapatkan. Tapi ini masih proses,” katanya.

Iman Senoadji dari JICA yang dihubungi kemarin mengatakan sampai saat ini JICA belum memutuskan siapa perusahaan konsultan yang bakal ditunjuk, karena masih melakukan proses evaluasi teknis dan konsep yang diajukan.

“Yang pasti saat ini kami masih dalam proses dan semuanya belum final, karena kami masih harus komunikasi internal dahulu dengan head office di Tokyo, dan harus ada evaluasi sesuai dengan guideline,” katanya.

Sayang, Iman juga enggan mengonfirmasi ataupun membantah mengenai surat hasil evaluasi lelang dari Menhub yang memenangkan Kahira dalam lelang proyek tersebut.

Kepentingan DKI

Informasi mengenai pilihan Dephub itu ternyata juga tidak diketahui para pejabat Pemprov DKI. Kepala Badan Perencanaan Daerah DKI Ahmad Hariyadi yang dihubungi kemarin mengatakan belum tahu perihal penetapan pemenang perusahaan konsultan tersebut.

Dirut PT MRT Jakarta Eddi Santosa yang dihubungi terpisah malah baru tahu kalau ternyata Dephub sudah menetapkan Katahira sebagai pemenang lelang sejak 14 November.

Eddy juga tidak tahu kenapa JICA hingga kini belum memberikan keputusan final tentang siapa yang menggarap proyek desain dasar MRT tersebut. Dia mengatakan, meski proyek tersebut ada di tangan Dephub, Pemprov DKI tetap berkepentingan untuk mengetahuinya.

“Kami sendiri sekarang sedang menyiapkan tender rekrutmen konsultan pelaksana desain dasar proyek MRT, untuk mendukung kegiatan pembuatan basic desain oleh perusahaan konsultan yang ditunjuk Dephub,” katanya. (mia.chitra@bisnis.co.id/ bastanul.siregar@bisnis.co.id)

Oleh Mia Chitra Dinisari & Bastanul Siregar
Sumber: Bisnis Indonesia

Written by jakartamrt

December 26, 2008 at 8:53 am

Posted in bisnis.com

Lintasan MRT diperluas 2016

leave a comment »

JAKARTA: Pemprov DKI akan melakukan studi awal kelayakan konstruksi lintasan mass rapid transit (MRT) Kebon Jeruk-Pulogebang bersamaan dengan rencana perluasan lintasan ke Dukuh Atas-Kota pada 2016.

Gubernur DKI Fauzi Bowo menyatakan studi itu sekaligus menjadi awal rencana pengalihan jalur blue line monorail menjadi sepenuhnya lintasan MRT. Studi tersebut dilakukan setelah pekerjaan lintasan Dukuh Atas-Lebak Bulus selesai.

“Jadi setelah Lebak Bulus – Dukuh Atas selesai, segera dilanjutkan pembangunan lintas Dukuh Atas-Kota. Nah, di dalam paket Dukuh Atas – Kota itu kami akan masukkan kajian awal lintas Kebon Jeruk-Pulogebang,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Gubernur mengatakan pihak kreditor sudah menyetujui rencana tersebut. Namun, belum ada rincian persis mengenai nilai pinjaman studi awal berikut rencana perluasan lintasan MRT ke jalur Dukuh Atas-Kota.

Namun, sesuai dengan jadwal, perluasan konstruksi MRT lintasan Dukuh Atas – Kota dan studi kelayakan lintasan Kebun Jeruk-Pulogebang akan dilakukan setelah konstruksi lintasan Dukuh Atas-Lebak Bulus selesai sepenuhnya pada 2015.

Rencananya, lintasan Kebon Jeruk-Pulogebang itu akan bertemu dengan lintasan Lebak Bulus-Kota di kawasan Wisma Dharmala, Karet Jl. KH Mas Mansyur. Lintasan dari Kebon Jeruk ke Pulogebang akan melalui Kampung Melayu dan Kali Malang.

“Sedangkan lintasan ke arah barat sendiri belum ada kepastian, tetapi kemungkinan sampai di daerah Kebun Jeruk akan melewati Tomang, atau yang sebelumnya merupakan rencana blue line dari proyek monorail yang kami perbarui,” katanya.

Pembangunan MRT lintasan pertama, yakni Dukuh Atas- Lebak Bulus, saat ini masih dalam tahap desain teknik yang dikoordinasi oleh Departemen Perhubungan. Menurut jadwal, desain ini rampung pada Maret 2010.

Setelah desain teknik itu rampung pekerjaan dilanjutkan dengan konstruksi fisik lintasan yang diperkirakan memakan waktu empat tahun, dari 2011-2015.

Jika operasional MRT berjalan lancar, maka dalam periode 2016-2025 diproyeksikan selama periode 2026-2055 moda transportasi baru Ibu Kota itu sudah dapat menghasilkan total laba bersih sebesar Rp13 triliun.

Namun pada periode yang sama, setiap tahun APBD DKI harus tergerus sebesar Rp87 miliar guna membayar cicilan pokok berikut bunga dari pinjaman yang diberikan oleh Japan Bank for International Cooperation/ JBIC (kini Japan International Coorperation Agency/ JICA).

Menurut rencana, JICA akan mencairkan pinjaman US$450 juta per Maret 2009, melanjutkan pinjaman sebelumnya yang untuk desain US$17 juta.

Oleh Nurudin Abdullah
Source: Bisnis Indonesia

Written by jakartamrt

November 26, 2008 at 2:34 am

Pemprov tetap suntik Rp105 miliar ke PT MRT

leave a comment »

JAKARTA: Pemprov DKI akan tetap mengalokasikan dana Rp105 miliar untuk anggaran kerja PT MRT Jakarta sebagai pengelola kereta mass rapid transit (MRT), meski Fraksi PDIP DPRD DKI mengusulkan penundaan pengalokasian dana tersebut.

Gubernur DKI Fauzi Bowo menyatakan alokasi dana untuk PT MRT Jakarta melalui APBD 2009 itu tak perlu ditangguhkan karena sudah ada Peraturan Menteri Keuangan No.168/PMK.07/2008 per 6 November 2008 tentang Hibah Daerah.

“Itu peraturan yang memperkuat Peraturan Menteri Keuangan No. 169/PMK. 07/2008 tentang Tata Cara Penyaluran Hibah kepada Pemerintah Daerah. Dengan begitu, masalah hibah sudah selesai, sehingga dapat ditindaklanjuti proses pencairan dana,” ujarnya dalam paripurna DPRD, kemarin.

Fraksi PDIP DPRD sebelumnya menilai anggaran yang disiapkan pemprov untuk PT MRT di APBD 2009 seharusnya bisa ditangguhkan karena hingga kini belum ada kejelasan yang pasti dari pemerintah pusat mengenai kapan proyek itu bisa dimulai. 

“Lebih baik pemprov konsentrasi ke busway dan jalan rusak. Jangan sampai seperti monorel yang tidak jelas kelanjutannya,” ujar anggota fraksi PDIP? Sayogo Hendrosubroto dalam paripurna DPRD awal pekan ini.

Gubernur menekankan pemprov juga telah mengalokasikan dana pembebasan lahan untuk depo dan jalur MRT pada APBD 2009, sebab, proyek MRT itu lebih berpotensi rampung tepat waktu dibandingkan proyek monorel yang mangkrak akibat masalah pembiayaan. 

Pasalnya, proyek MRT merupakan proyek yang pembiayaan sepenuhnya ditanggung pemerintah dengan komitmen pinjaman dari Pemerintah Jepang. 

“Saat ini, prosesnya sudah masuk ke tahap penyusunan desain dasar di Departemen Perhubungan,” katanya.

Fauzi menjelaskan sesuai dengan Peraturan Gubernur No. 103/2007 tentang Pola Transportasi Makro DKI, di samping MRT pengembangan busway juga akan dilakukan dengan evaluasi aspek layanan seperti kapasitas angkut, dan tiket.

Dana hibah

Direktur Utama PT MRT Jakarta Eddi Santosa mengatakan hingga saat ini sudah ada dana hibah Rp163 miliar dari Pemerintah Jepang. Perinciannya, Rp100 miliar diserahkan kepada Departemen Perhubungan dan Rp63 miliar untuk PT MRT Jakarta

Dana hibah itu, sesuai dengan tata cara yang diatur dalam PMK 169/2008, digunakan untuk konsultasi pelelangan, dan peningkatan kapasitas untuk staf, membangun sistem dan prosedur perusahaan, serta sistem teknologi informasi untuk penguatan administrasi.

“Selain itu, dana ini juga akan kami pakai untuk menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, menyempurnakan sistem pengetahuan, melaksanakan fungsi counterpart bersama Dephub dalam desain dasar, dan menyiapkan implementasi pinjaman tahap ke-dua,” katanya.

Saat ini, PT MRT Jakarta mendapat modal Rp50 miliar dari pemegang saham yakni dari Pemprov DKI sebesar Rp49,5 miliar dan PD Pasar Jaya Rp0,5 miliar. Kedua penyertaan modal ini disetujui dalam APBD Perubahan 2008.

Oleh Mia Chitra Dinisari

Source: Bisnis Indonesia

Written by jakartamrt

November 13, 2008 at 1:17 am

Posted in bisnis.com

Tagged with ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.